Ketika Tuhan Jatuh Cinta (KTJC) adalah sebuah film besutan Studio Sembilan, Leica Production yang disutradarai oleh Fransiska Fiorella. Film ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama. Sebelum film ini diterbitkan, novelnya sendiri sudah meledak di pasaran. Sudah menjadi tren tersendiri bagi rumah produksi film untuk membuat film-film yang berasal dari novel laris. Hal ini akan mempermudah marketing dari film tersebut.
KTJC tampil perdana pada 5 Juni 2014. Saya sendiri menontonya tanggal 9 kemarin. Sebenarnya saya tidak tahu histori pembuatan film ini, saya juga tidak tertarik dengan poster film yang ada di XXI. Ketertarikan saya menonton film ini adalah karena pemerannya yang kebanyakan pemeran favorit saya. Reza Rahadian, Didi Petet, Aulia Sarah dan Ibnu Jamil.
Setelah googling review-review dan beberapa berita yang terkait dengan film ini, akhirnya saya memantapkan diri untuk menonton film ini. Hahaha.
Dari judul dan posternya saya menyangka film ini akan seperti film-film yang diadaptasi dari novel-novelnya kang Abik semacam AAC, KCB, dll. Film-film semacam itu sebenarnya sudah tidak lagi menarik minat saya karena jalan cerita yang mudah ditebak dan pembuatan karakter tokoh yang serba sempurna.
Fikri Versi Film Adalah Pilihan Reza
Menariknya, saat Reza diundang di acara Sarah Sechan akhir Mei lalu, ia menjelaskan bahwa karakter tokoh utama film KTJC (Fikri) yang diperankan oleh Reza sendiri, adalah karakter ciptaan dia sendiri. Berbeda dengan karakter di novel yang sangat religius dan kalau melihat review-review di goodreads, Fikri versi novel adalah tokoh sempurna semacam Fahri di AAC.
Keputusan Reza sendiri saya rasa sangat tepat, dan hasilnya bisa dilihat di film ini. Fikri versi film adalah seorang seniman lukis dengan media pasir di atas kanvas yang bisa tampil sebagaimana umumnya seorang seniman. Jins belel, kaos dibalut kemeja dengan lengan digulung, rambut gondrong. Tapi tetap membawa kesan wisdom dari Fikri versi novel. Saya senang sekali dengan pemilihan karakter ini oleh Reza. Lebih humanis, lebih nyata, lebih empat dimensi.
Akting Aktor-Aktor yang Luar Biasa
Di film ini saya dapat melihat kemampuan akting semua aktor yang mumpuni dan serius menjalani peran. Ibnu Jamil sebagai Irul yang playboy juga terlihat oke di film ini. Saya juga memuji kemampuan akting Aulia Sarah sebagai Leni, terutama saat peran sedih. Ia bisa membawa suasana sendu tanpa menariknya terlalu lebay. Begitu juga dengan Tamara Tyasmara sebagai Humaira, adik Fikri yang bisa membawakan peran adik secara wajar. Mungkin sudah terbiasa juga dengan perannya di Malam Minggu Miko.
Tentu saja peran Reza Rahadian, Didi Petet, Dewi Irawan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi di film ini.
Dilema Menjadi Inti Film, Cerita Menjadi Dilematis
Sudah barang tentu, novel dan film adalah dua hal yang berbeda. Novel cenderung menggunakan satu indera untuk menikmatinya, yang didukung peran besar imajinasi. Sementara dalam film, imajinasi yang dibangun saat membaca novel, diinterpretasikan oleh sutradara sesuai versinya, kemudian disajikan dalam media audio-visual. Dengan kata lain, pasti akan ada miss dari pemetaan karakter dalam benak kita saat membaca novel dan menonton film. Ini yang membuat saya malas membaca novelnya jika akan tahu dibuat filmnya. Hal ini sendiri menjadi dilema bagi sutradara, karena bagaimanapun juga, interpretasi pembaca pastilah berbeda-beda. Sementara dia harus menyatukan interpretasi-interpretasi tersebut menjadi satu bentuk nyata yang sekiranya mewakili.
Inti cerita dari film ini adalah kondisi dilematis dari seorang Fikri. Ia memiliki banyak sekali masalah dalam hidupnya, yang sepertinya di akhir film akan ditunjukkan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan umatNya dalam belenggu masalah. Ia akan membantu dan menemani umatNya sebagai bentuk cintaNya kepada manusia. Oya sebagai informasi, film ini adalah film pertama dari dua film secara keseluruhan. KTJC part 2 sendiri belum pasti tanggal rilisnya. Sinopsis film ini bisa dilihat di sini
Kenapa saya bilang ceritanya menjadi dilematis? Karena konflik yang ada dalam sebuah film sebenarnya menjadi poin yang paling menarik dri film tersebut. Tapi jika tidak dimanajemen dengan baik, akan membuat film terkesan memiliki tempo yang cepat, tidak nyambung, lompat-lompat dan sebagainya. Penempatan konflik yang baik menurut saya salah satunya bisa dinikmati pada film Berbagi Suami. Selain terpisah menjadi tiga bagian cerita, masing-masing cerita juga memiliki konflik yang tidak sedikit. Namun dalam Berbagi Suami, semua konflik diatur sedemikian rupa hingga menjadi cerita yang berirama dan sangat bisa dinikmati.
Hal ini tidak bisa saya nikmati di film KTJC. Konflik-konflik yang ada di film ini memberikan kesan terburu-buru dan rusuh. Sehingga konflik tidak bisa ditonton sebagai sebuah narasi, melainkan sebagai list-list permasalahan yang ada. Coba saya buat listnya di bawah :



